Kamis, 30 Oktober 2014

Tips Mendidik Seorang Anak agar Bisa Menjadi Orang yang Hebat



  • Setiap anak yang terlahir ke dunia ini adalah sangat istimewa, masing-masing dari mereka memiliki potensi untuk dapat tumbuh menjadi orang-orang yang hebat. Perhatikanlah para pemimpin negara, para ilmuwan, para musisi, olahragawan terkenal, dan sebagainya. Orang-orang hebat tersebut dahulunya juga pernah menjadi seorang anak seperti anak-anak Anda saat ini. Jangan pernah meremehkan kemampuan anak-anak Anda, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi terhadap mereka di masa depan, tapi kita dapat membantu mereka untuk dapat mengenali potensinya, membimbing mereka agar dapat mengembangkan bakat-bakatnya.
    Kenyataannya tidak semua orang tua memahami dengan baik bakat serta potensi buah hati mereka, mereka berpikir sederhana asalkan sudah dapat memberi makan, tempat tinggal, kesehatan dan menyekolahkannya itu sudah cukup. Ubahlah cara berpikir demikian, anak-anak Anda adalah sebuah permata yang belum diasah yang belum menampilkan kecemerlangannya. Bacalah tips berikut tentang bagaimana cara agar dapat mendidik buah hati Anda supaya suatu hari nanti mereka dapat tumbuh menjadi orang-orang yang hebat:
  • 1. Tumbuhkan rasa percaya diri dalam diri anak

    Jangan pernah membunuh rasa percaya diri anak Anda, tetapi bantulah mereka agar memiliki rasa percaya diri yang baik. Sering-seringlah mengajaknya berkomunikasi, mengajarinya berargumen serta berpikir kritis tentang sesuatu, memperkenalkannya kepada orang-orang yang baru dia kenal, adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengajar mereka supaya memiliki rasa percaya diri yang baik.
  • 2. Mengajarkan kejujuran dan kerendahan hati

    Ajarilah mereka untuk berani bertindak jujur serta rendah hati dalam tingkah laku, perkataan serta perbuatan. Kejujuran dan kerendahan hati adalah asas moral yang setiap orang wajib memiliki, jika Anda menginginkan buah hati Anda kelak dapat tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hebat, maka didiklah mereka mulai saat ini agar bisa melakukan kedua hal tersebut.
  • 3. Memberinya pujian

    Berikan pujian kepada anak Anda ketika mereka berhasil menyelesaikan sebuah tugas, namun hindarilah memberikan pujian secara berlebihan dan yang tanpa alasan. Memberikan pujian kepada seorang anak dapat membuat mereka merasa dihargai dan tidak disepelekan. Beri mereka pemahaman bahwa pujian yang lebih besar akan dapat dia peroleh dari orang lain asalkan dia mau berusaha untuk selalu berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
  • 4. Melatihnya keterampilan

    Bekali buah hati Anda dengan keterampilan, apakah itu keterampilan dalam memainkan alat musik, tarian, olahraga, dan sebagainya. Para atlet dan para musisi terkenal bisa menggapai puncak ketenaran sedikit banyak tidak bisa dilepaskan dari bantuan serta dorongan orang tua mereka. Oleh karena itu, pahamilah dengan baik bakat anak-anak Anda dengan kesabaran serta dedikasi yang tulus arahkan mereka supaya tetap fokus untuk menggapai cita-cita yang mereka inginkan, namun jangan sesekali memaksakan kehendak Anda kepada mereka, biarkanlah mereka memilih sesuai dengan bidang yang diminatinya.
  • 5. Tidak memanjakannya

    Orang tua yang terlalu memanjakan putra-putrinya dapat menjadi masalah bagi masa depan mereka ketika dewasa nanti. Hindarilah sebisa mungkin memanjakan mereka, Anda dapat memberi mereka perhatian atau pun hadiah, namun sesuaikan dengan situasi serta kondisinya. Hadiah diberikan kepada anak sebagai apresiasi sebaiknya apabila mereka bisa atau telah berhasil menyelesaikan sesuatu melalui usahanya sendiri. Hindarilah memberikan bantuan secara terus menerus untuk hal-hal kecil yang sebenarnya dia mampu untuk melakukannya sendiri, sebagai contoh makan, mencuci baju, membersihkan kamar tidur, mencuci piring, dan sebagainya. Dengan tidak memanjakannya, maka Anda telah secara tidak langsung telah mengajarkan kemandirian kepada mereka.
  • 6. Memberikan pendidikan yang baik

    Pendidikan di masa sekarang adalah sangat penting, seseorang akan memiliki nilai jual yang lebih baik apabila memiliki pendidikan yang baik pula. Oleh karena itu, doronglah mereka agar selalu giat belajar supaya dapat selalu berprestasi, juga persiapkan dengan baik serta rencanakan keuangan bagi pendidikan mereka terutama ketika mereka nanti akan memasuki perguruan tinggi.
    Tentunya masih ada banyak hal luhur lainnya yang dapat dilakukan untuk membantu mereka. Mengutip perkataan seorang fisikawan hebat sepanjang masa Thomas Alfa Edison, "Jika kita menginginkan sesuatu yang belum pernah kita miliki, maka kita harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan." Pikiran kita seperti parasut hanya berfungsi ketika terbuka, karena setiap manusia dibentuk dari keyakinannya, apa yang ia yakini itulah dia. Oleh karena itu, akan menjadi seperti apa seseorang kelak tergantung pada keputusannya saat ini. Bantulah anak-anak Anda jangan telantarkan mereka, arahkanlah mereka agar bisa menjadi orang-orang yang hebat suatu hari nanti




Rabu, 29 Oktober 2014

4 Hal yang Hendaknya Para Ayah Ajarkan kepada Anak-Anak Mereka

4 Hal yang Hendaknya Para Ayah Ajarkan kepada Anak-Anak Mereka

Artikel yang sangat baik untuk mengingatkan kita sebagai ayah yang sibuk bahwa ayah tidak boleh lupa mengajar anak-anak mereka melalui contoh dan perbuatan.


  • Ketika saya berumur 13 tahun, keluarga saya menghadiri perkemahan keluarga. Salah satu kegiatannya adalah memanjat tebing yang paling tinggi di pegunungan dekat situ. Saya memutuskan melakukannya dengan orangtua saya, meskipun saya takut akan ketinggian. Ketika saya makin dekat ke puncak dan jalannya makin sempit ketakutan saya makin meningkat. Pendaki lainnya menawarkan tali kepada kami untuk diikatkan di sekitar pinggang ayah saya dan saya. Tali ini memberi saya keberanian melanjutkannya hingga ke puncak. Ketika kami turun saya makin yakin dan takut saya berkurang. Saya melepaskan tali dan akhirnya memberitahu ayah bahwa saya tidak membutuhkannya lagi.
    Menoleh ke belakang pada pengalaman itu saya menyadari bahwa pengalaman itu adalah analogi sempurna tentang bagaimana para ayah membantu kita melakukan perjalanan dalam hidup, memberi kita dukungan yang dibutuhkan dan mengajar kita pelajaran yang kita butuhkan agar menjadi orang dewasa yang mandiri dan percaya diri. Empat pelajaran penting yang saya dapatkan dari ayah adalah pentingnya suatu pendidikan, perlunya melayani orang lain, memiliki etika kerja yang baik dan bersenang-senang dengan keluarga. Pelajaran ini dapat memperkuat hubungan setiap ayah dan anak.
  • Pendidikan

    Meskipun kakek dan nenek dari ayah tidak pernah mengenyam perguruan tinggi, ayah dan kedua saudara lelakinya meraih gelar dari perguruan tinggi. Contoh ini tidak pernah saya lupakan. Saya terdorong untuk menjelajahi dan menyelidiki kemampuan saya sendiri dan selalu berusaha dengan keras. Ayah selalu menunjukkan keyakinan yang besar pada kemampuan saya untuk berhasil. Suatu ketika, setelah mengunjungi kelas kimia untuk menyampaikan presentasi, dia menyadari bahwa guru saya tidak mengira kalau saya dapat berhasil dalam kelasnya. Dia meyakinkan guru tersebut bahwa saya mampu melakukannya. Setelah kejadian itu saya merasa yakin kepada kemampuan saya dan guru tersebut merasa memiliki harapan baru. Dengan kesadaran bahwa ayah sangat menghargai pendidikan membantu saya menghargai pendidikan juga.
  • Pelayanan

    Ayah saya mengajar saya membantu mereka yang kurang beruntung. Sebagai seorang anak saya masih ingat ketika keluarga kami menjadi Santa rahasia bagi keluarga yang tidak mampu. Kami membeli mainan, pakaian, makanan dan bahan-bahan lain untuk dikirim ke keluarga itu. Kami gembira berbelanja dan terutama mengirimkan barang-barang itu secara diam-diam.
    Beberapa tahun lalu selama kunjungan keluarga, ayah saya menyatakan bahwa teman-temannya akan merasa kehilangan dia. Setiap pagi dia berjalan-jalan sekeliling pusat kota Salt Lake. Dia berteman dengan beberapa orang yang kurang beruntung dan membeli sarapan buat mereka setiap pagi. Perbuatannya itu meninggalkan kesan kepada saya juga anak-anak saya. Mereka masih tetap membicarakan teman-teman kakek. Dia sungguh-sungguh memberi teladan.
  • Kerja

    Ketika saya masih remaja pada hari Sabtu keluarga kami sering mengerjakan sesuatu bersama. Apakah itu mencabuti rumput liar, mencuci motor atau mengerjakan proyek, kami diharapkan melakukan pekerjaan itu dan melakukannya dengan baik. Seringkali dia berhenti sejenak untuk memperlihatkan bagaimana mencabuti rumput liar dari akarnya, mencuci dan mengeringkan motor  atau jendela. Akhirnya saya dapat melakukannya sendiri tanpa bantuannya.
    Kalau ada proyek besar kami masing-masing diberi sebuah tugas, diajar bagaimana menyelesaikannya lalu ayah meninggalkan kami untuk menyelesaikannya sendiri. Setahun lamanya kami menggunakan setiap malam untuk mengecat interior rumah kami yang baru atau memberi lapis pelindung pada papan-papan temboknya. Sebagai seorang remaja, saya yakin saya tidak menghargai menggunakan begitu banyak malam untuk bekerja, tetapi saya senang memperlihatkan kepada tamu rumah baru kami yang papan-papan temboknya bagus dan almarinya di cat dengan indah.
  • Bersenang-senang

    Seperti pepatah “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian.” Selain mengajarkan kerja keras, ayah saya selalu menyempatkan diri untuk bersenang-senang dengan kami. Saya memiliki kenangan manis dilempar ke kolam yang dalam oleh ayah saya, bermain 
    Seringkali kami piknik .  Melalui pengalaman itu saya belajar untuk menertawai diri sendiri.
    Pengaruh ayah atas anak-anak mereka sangat besar. Dengan menyediakan waktu mengajar anak-anak Anda dengan kata-kata dan perbuatan, Anda sedang meletakkan dasar untuk keberhasilan masa depan mereka. Semua waktu dan usaha terasa ada harganya ketika anak-anak Anda belajar mandiri, sama seperti saya belajar melepaskan tali ketika memanjat puncak bukit itu.




Sabtu, 23 Agustus 2014

Inilah Hal-Hal Yang Membuat Kita Tidak Mengerti Apa Itu Bersyukur

Inilah Hal-Hal Yang Membuat Kita Tidak Mengerti Apa Itu Bersyukur


Inilah Hal-Hal Yang Membuat Kita Tidak Mengerti Apa Itu Bersyukur

Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan,bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi target dan keinginan.

Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yg mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan ..
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.
Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ''kaya''.
Orang yang ''kaya'' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yg sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ''Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.'' Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :
Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah.
Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar bergonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar.

Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.


Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ''Lulu, Lulu.'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.
Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu''. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.''

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.


Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ''Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.''

Bersyukurlah !

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki sgl sesuatu yg kamu inginkan....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar ...

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ...
Di masa itulah kamu tumbuh ...